Laman

Jumat, 04 Januari 2013

Rheumatoid Arthritis


Rheumatoid Arthritis
A.      PENGERTIAN
Rheumatoid Arthritis berasal dari dua kata Artitis yang artinya radang sendi dan Rematoid yang berasal dari kata "rheumatos" yang artinya mengalir. Dari kata rheumatos ini kemudian terciptalah istilah "demam rematik", yaitu dimulai dengan infeksi tenggorokan dan disertai dengan radang sendi. Suku kata "oid" berasal dari kata rematiod yang berarti "mirip", maka dapat diartikan sebagai penyakit yang mirip demam rematik. Tapi bedanya Rheumatoid Arthritis bersifat progresif.
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut. (Susan Martin Tucker, 1998).
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. (Arif Mansjour, 2001).
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248).
Rhemaotid Arthritis atau RA harus segera ditangani dan diobati secara tepat karena dapat menyebabkan kecacatan, penurunan kualitas hidup, bahkan kematian jika sudah mencapai tingkat keparahan yang bersifat lanjut.
RA merupakan suatu penyakit otoimun. Otoimun yaitu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan benda asing yang membahayakan tubuh tapi menyerang tubuh itu sendiri. Jadi, dapat disimpulkan bahwa RA disebabkan oleh kesalahan sistem kekebalan tubuh yang justru menyerang tubuh sendiri, terutama menyerang sendi-sendi dan menyebabkan peradangan.
RA menyerang sinovium yaitu lapisan dalam bungkus sendi. Peradangan pada sinovium ini disebut dengan sinovitis. RA adalah penyakit sendi menahun dimana terkadang gejala penyakitnya tidak muncul dalam selang waktu beberapa lama namun kemudian dapat muncul lagi, menyerang berbagai sendi, dan biasanya simetris (bila menyerang bagian tubuh kanan maka bagian kiri juga ikut terkena).

B.       ETIOLOGI
Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu :
1.          Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus
2.        Endokrin
3.        Autoimun
4.        Metabolik
5.        Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya.
Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.

C.       MANIFESTASI KLINIS
Pola karakteristik dari persendian yang terkena :
1.          Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki.
2.        Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular.
3.        Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris.
4.        Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit.
5.        Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.
Gambaran Ekstra-artikular :
1.          Demam, penurunan berat badan, keletihan, anemia.
2.        Fenomena Raynaud.
3.        Nodulus rheumatoid, tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas, di temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.
Rheumatoid arthritis ditandai oleh adanya gejala umum peradangan berupa :
1.          demam, lemah tubuh dan pembengkakan sendi.
2.        nyeri dan kekakuan sendi yang dirasakan paling parah pada pagi hari.
3.        rentang gerak berkurang, timbul deformitas sendi dan kontraktur otot.
4.        Pada sekitar 20% penderita rheumatoid artritits muncul nodus rheumatoid ekstrasinovium. Nodus ini erdiri dari sel darah putih dan sisia sel yang terdapat di daerah trauma atau peningkatan tekanan. Nodus biasanya terbentuk di jaringan subkutis di atas siku dan jari tangan.

D.      PATOFISIOLOGI

E.       KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

F.       PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tidak ada tes tunggal untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis. Sebaliknya, rheumatoid arthritis adalah didiagnosis berdasarkan kombinasi dari penyajian sendi yang terlibat, karakteristik kekakuan sendi pada pagi hari, adanya faktor darah arthritis dan antibodi citrulline, serta temuan nodul rheumatoid dan perubahan radiografi (X-ray pengujian ).
Langkah pertama dalam diagnosis rheumatoid arthritis adalah suatu pertemuan antara dokter dan pasien. Dokter tinjauan sejarah gejala, memeriksa sendi untuk peradangan, nyeri, pembengkakan, dan kelainan bentuk, kulit untuk nodul rheumatoid (perusahaan benjolan dibawah kulit, paling sering selama siku atau jari), dan bagian tubuh lain untuk peradangan, darah tertentu dan tes sinar-X sering diperoleh. Diagnosis akan didasarkan pada pola gejala, distribusi sendi meradang, dan darah serta temuan X-ray. Kunjungan Beberapa mungkin diperlukan sebelum dokter dapat diagnosis tertentu. Seorang dokter dengan pelatihan khusus dalam dan terkait penyakit radang sendi disebut rheumatologist .
Distribusi dari peradangan sendi penting untuk dokter dalam membuat diagnosis. Dalam rheumatoid arthritis, sendi kecil tangan, pergelangan tangan, kaki, dan lutut biasanya meradang dalam distribusi simetris (mempengaruhi kedua sisi tubuh). Ketika hanya satu atau dua sendi yang meradang, diagnosis rheumatoid arthritis menjadi lebih sulit. Dokter mungkin akan melakukan tes lain untuk mengecualikan arthritis karena infeksi atau gout. Deteksi nodul rheumatoid (dijelaskan di atas), paling sering sekitar siku dan jari, dapat menyarankan diagnosis.
Antibodi abnormal dapat ditemukan dalam darah orang dengan rheumatoid arthritis. Sebuah antibodi yang disebut " faktor rematik "dapat ditemukan pada 80% pasien dengan rheumatoid arthritis. Pasien yang merasa memiliki rheumatoid arthritis dan tidak memiliki faktor pengujian rheumatoid positif disebut sebagai memiliki "rheumatoid arthritis seronegatif." antibodi citrulline juga disebut sebagai antibodi, anticitrulline anticyclic antibodi, peptida citrullinated dan anti-PKC) adalah (ada di sebagian besar orang dengan rheumatoid arthritis. Hal ini berguna dalam diagnosis rheumatoid arthritis ketika mengevaluasi kasus peradangan sendi yang tidak dapat dijelaskan. Sebuah tes untuk antibodi citrulline paling membantu dalam mencari penyebab dari peradangan arthritis yang sebelumnya tidak terdiagnosis ketika tes darah tradisional untuk rheumatoid arthritis, faktor rheumatoid, tidak hadir. Antibodi citrulline telah dirasakan untuk mewakili tahap-tahap awal rheumatoid arthritis dalam pengaturan ini. Antibodi lain yang disebut " antibodi antinuclear "(ANA) juga sering ditemukan pada orang dengan rheumatoid arthritis.



G.      PENATALAKSANAAN
Secara keseluruhan penyakit RA tidak dapat disembuhkan secara total. Namun, berbagai pengobatan RA yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi peradangan dan nyeri sendi, memaksimalkan fungsi sendi, mencegah pemburukan kerusakan dan kelainan bentuk sendi. Mengingat RA adalah penyakit yang progresif maka kunci keberhasilan pengobatannya adalah diagnosa dini dan pengobatan awal yang progresif, yaitu sesegera mungkin menggunakan obat pengubah perjalanan penyakit.
Tata laksana pengobatan RA secara dini dapat memperbaiki fungsi, menghentikan kerusakan pada sendi dan mencegah ketidakmampuan untuk bekerja atau kecacatan. Salah satu terobosan pengobatan yang dilakukan adalah dengan menggunakan Bilogic Agent seperti Etanercept. Etanercept merupakan obat bilogis yang menangkap atau menghambat suatu protein dalam tubuh yang dinamakan Tumor Necrosis Alpha atau TNF Alpha yang menyebabkan peradangan pada persendian. Dengan pemakaian Etanercept yang tepat, gejala RA dapat secaa siginifikan dan seringkali secara cepat membaik. Pengobatan ini juga harus dilakukan dalam waktu yang cukup lama.
Perawatan yang optimal untuk penyakit RA melibatkan kombinasi dari obat-obatan, istirahat, latihan-latihan yang menguatkan sendi, perlindungan serta pendidikan RA bagi pasien dan keluarga.



TEORI KEPERAWATAN
A.      PENGKAJIAN
1.          Aktivitas/ istirahat
Gejala
:
Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda
:
Malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
2.        Kardiovaskuler
Gejala :
   
Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3.      Integritas ego
Gejala
:
Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ). Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang lain).
4.        Makanan/ cairan
Gejala
:
Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/cairan adekuat: mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah
Tanda
:
Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5.        Hygiene
Gejala
:
Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan.
6.        Neurosensori
Gejala
:
Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Tanda
:
Pembengkakan sendi simetris
7.        Nyeri/ kenyamanan
Gejala
:
Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
8.        Keamanan
Gejala
:
Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
9.        Interaksi sosial
Gejala
:
Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.


B.       DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.          Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
2.        Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal,
Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.

C.       INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan 1 : Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Kriteria Hasil:
·         Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol
·         Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
·         Mengikuti program farmakologis yang diresepkan
·         Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.
Intervensi Keperawatan :
·         Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
Rasional
:
Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program.
·         Berikan matras/ kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.    
Rasional
:
Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri.

·         Tempatkan/ pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
Rasional
:
Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi.
·         Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak.
Rasional
:
Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi.
·         Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
Rasional
:
Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.
·         Berikan massage yang lembut
Rasional
:
meningkatkan relaksasi/ mengurangi nyeri
·         Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas.
Rasional
:
Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping.
·         Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
Rasional
:
Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.
·         Beri obat sebelum aktivitas/ latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.
Rasional
:
Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
·         Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat)
Rasional
:
Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
·         Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan.
Rasional
:
Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut.

Diagnosa Keperawatan 2: Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal, Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot.
Kriteria Hasil
·            Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/ pembatasan kontraktur.
·            Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh.
·            Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas.

Intervensi :
·       Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi
Rasional
:
Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi.
·       Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganggu.
Rasional
:
Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan.
·       Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan.
Rasional
:
Mempertahankan/meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi.
·       Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan/ bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze.
Rasional
:
Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit.
·       Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace
Rasional
:
Meningkatkan stabilitas ( mengurangi resiko cidera ) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor.
·       Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher.
Rasional
:
Mencegah fleksi leher.
·       Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan
Rasional
:
Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
·       Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.
Rasional
:
Menghindari cidera akibat kecelakaan/ jatuh.
·       Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.
Rasional
:
Berguna dalam memformulasikan program latihan/ aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat.
·       Kolaborasi: Berikan matras busa/ pengubah tekanan.
Rsional
:
Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas.
·       Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid).
Rasional
:
Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut.


REFERENSI

^ (Inggris)"Mathematical modeling of the circadian rhythm of key neuroendocrine-immune system players in rheumatoid arthritis: a systems biology approach". Systems Immunology, Frankfurt Institute for Advanced Studies; Meyer-Hermann M, Figge MT, Straub RH.. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19714618. Diakses pada 27 Juni 2010.




1 komentar:

Sumber: http://dedia1996.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-popup-facebook-like-box.html#ixzz2IIH6d6Ax